Dampak Kecerdasan Buatan (AI) terhadap Dunia Pendidikan
Surabaya — Transformasi digital di sektor pendidikan semakin menunjukkan percepatan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Fenomena ini menjadi sorotan mahasiswa melalui artikel berjudul “Dampak Kecerdasan Buatan (AI) terhadap Dunia Pendidikan” yang ditulis oleh Fagid Zakkyuddin dan disunting oleh Fatur Ramadhani. Tulisan tersebut mengulas secara komprehensif bagaimana kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) berpotensi mengubah lanskap pembelajaran, sekaligus menyoroti tantangan etis dan sosial yang menyertainya.
Dalam artikelnya, Fagid menjelaskan bahwa AI merupakan cabang ilmu komputer yang dirancang untuk meniru kemampuan kognitif manusia, termasuk dalam belajar, menganalisis data, dan mengambil keputusan. Di bidang pendidikan, teknologi ini membuka peluang terciptanya sistem pembelajaran yang lebih personal dan adaptif. Platform digital seperti Coursera dan Khan Academy disebut sebagai contoh implementasi pembelajaran berbasis data yang mampu menyesuaikan materi dengan kebutuhan individu siswa. Kehadiran chatbot pendidikan sebagai asisten virtual juga dinilai mampu meningkatkan interaktivitas, karena siswa dapat mengakses bantuan akademik kapan saja tanpa terbatas ruang dan waktu.
Lebih lanjut, artikel tersebut mengangkat peran AI dalam mendukung efisiensi administrasi pendidikan. Sistem berbasis kecerdasan buatan kini mampu melakukan koreksi ujian secara otomatis, mengelola basis data siswa, hingga mendeteksi plagiarisme pada karya ilmiah. Fitur analitik prediktif bahkan dapat membantu institusi mengidentifikasi potensi penurunan performa akademik sejak dini, sehingga intervensi dapat dilakukan lebih cepat dan tepat sasaran. Pandangan ini sejalan dengan rekomendasi kebijakan yang pernah dipublikasikan oleh UNESCO dalam laporan Artificial Intelligence and Education: Guidance for Policy-makers, yang menekankan pentingnya pemanfaatan AI secara strategis dan beretika.
Meski menawarkan berbagai keunggulan, Fagid juga menyoroti sejumlah kelemahan yang perlu diantisipasi. Salah satu tantangan terbesar adalah kesenjangan akses teknologi yang berpotensi memperlebar ketimpangan pendidikan, terutama bagi peserta didik yang tidak memiliki perangkat digital atau koneksi internet memadai. Kekhawatiran mengenai tergesernya peran guru juga menjadi isu yang kerap diperbincangkan, sebagaimana dikaji oleh Neil Selwyn dalam diskursus akademiknya tentang masa depan pendidikan. Namun, artikel ini menegaskan bahwa peran guru sebagai pembimbing moral, fasilitator nilai, dan pengembang karakter tetap tidak tergantikan oleh mesin. Selain itu, persoalan privasi dan keamanan data siswa menjadi perhatian penting, mengingat sistem AI bekerja dengan mengolah informasi personal dalam skala besar yang memerlukan tata kelola perlindungan data yang ketat.
Ke depan, integrasi AI dengan teknologi lain seperti realitas virtual dan realitas tertambah diproyeksikan mampu menghadirkan pengalaman belajar yang lebih imersif, mulai dari simulasi sejarah tiga dimensi hingga model interaktif anatomi manusia. Artikel ini memandang bahwa keberhasilan transformasi tersebut sangat bergantung pada kolaborasi antara teknologi dan pendidik. AI berperan sebagai pengolah data dan pengoptimal proses teknis, sementara guru tetap menjadi aktor utama dalam membangun empati, etika, serta keterampilan sosial peserta didik.
Secara lebih luas, gagasan yang diangkat dalam artikel ini memiliki relevansi kuat dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals. Pemanfaatan AI dalam pendidikan mendukung pencapaian tujuan pendidikan berkualitas dan inklusif, sekaligus mendorong inovasi dan infrastruktur digital yang berkelanjutan. Di sisi lain, perhatian terhadap isu kesenjangan akses dan perlindungan data mencerminkan pentingnya tata kelola teknologi yang adil dan bertanggung jawab agar transformasi digital tidak meninggalkan kelompok rentan.
Melalui tulisan ini, Fagid Zakkyuddin menunjukkan bahwa mahasiswa tidak hanya mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga mampu merefleksikan dampaknya secara kritis terhadap masa depan pendidikan. Artikel tersebut menjadi bukti bahwa lingkungan akademik kampus terus mendorong lahirnya pemikiran progresif yang selaras dengan tantangan global abad ke-21, sekaligus menegaskan komitmen terhadap pendidikan yang adaptif, inklusif, dan berorientasi pada keberlanjutan.